Pernahkah anda melihat fenomena anak – anak usia dini anteng dengan gadget bahkan anak – anak dibawah usia dua tahun pun sudah mahir menggeser layar, membuka aplikasi hingga memilih video favorit? Ya, fenomena ini sering disebut dengan Screen Time.
Screen Time Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut berapa lama waktu yang terpakai untuk melihat atau mengakses layar elektronik seperti ponsel, tablet, laptop atau televisi. Hal ini banyak diperbincangkan karena aktivitas ini dapat mempengaruhi kesehatan mental maupun fisik, tak terkecuali pada anak – anak usia dini.
Selama beberapa bulan terakhir, anak – anak usia dini (0-5 tahun) banyak terlibat dalam aktivitas berbasis layar menggunakan berbagai perangkat, misalnya: televisi, pontel pintar dan tablet telah menjadi bagian kehidupan mereka sehari – hari. Realitas ini menunjukkan bahwa praktik pengasuhan anak turut mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan era digital. Tidak jarang, ponsel pintar memang sengaja diberikan kepada anak dengan tujuan membuat mereka tenang atau teralihkan dalam beberapa hal, seperti saat makan, menjelang tidur atau di tempat umum maupun ketika orang tua tengah disibukkan dengan aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi.
Kondisi ini menimbulkan berbagai diskursus di kalangan praktisi kesehatan, pendidik dan juga masyarakat luas mengenai implikasi screen time terhadap perkembangan anak usia dini. Sebagian orang tua menganggap bahwa layar dapat membantu memberikan stimulasi edukatif sekaligus mengalihkan perhatian anak. Tetapi, tidak sedikit pula yang menyoroti risiko yang ditimbulkan apabila penggunaan gawai pada anak tak terkendali. Lantas, fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah screen time pada balita menjadi sarana belajar atau justru bahaya bagi tumbuh kembang mereka?
Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2024 mencatat bahwa sekitar 39,71% anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan bahkan 35,7% sudah bisa mengakses internet. Jika dirinci sesuai kelompok usianya, 5,88% anak di bawah usia satu tahun sudah menggunakan HP dengan persentase 4,33% dari angka tersebut sudah dapat mengakses internet. BPS juga menggarisbawahi bahwa data penggunaan telepon seluler di kalangan anak usia dini semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Banyak penelitian yang juga menunjukkan bahwa media baru di era modern kini seperti ponsel pintar menawarkan berbagai manfaat sekaligus risiko bagi kesehatan anak terutama dibawah usia lima tahun (Gordon-Hacker & Gueron Sela, 2020; Rocha & Nunes, 2020; Swider-Cios et al., 2023).
Secara positif, gadget dapat mendukung perkembangan anak seperti meningkatkan kreativitas, kemampuan komunikasi bahkan kemampuan kognitif dan motorik anak. Rahayu et al., 2021, menjelaskan bahwa kemampuan motorik anak dapat dilihat dari aspek keterampilan yang melibatkan otot kecil seperti pergerakan bibir, jari dan pergelangan tangan. Anak – anak secara tidak langsung melakukan pelatihan otot jari ketika menggunakan layar sentuh, mengetik dan menulis digital, permainan interaktif dan lainnya. Terkait aspek kognitif, dapat dilihat pada kemampuan anak dalam berpikir atau memproses informasi, kemampuan penalaran dan daya ingat (Rahayu et al., 2021).
Di samping itu, banyak peneliti yang juga menemukan berbagai macam risiko yang ditimbulkan Ketika anak memiliki waktu yang berlebihan dalam mengakses perangkat digital. Kebiasaan anak mengakses perangkat digital tidak luput dari sifatnya yang mudah meniru apa yang dilakukan orang tua nya. Anak-anak seringkali mengamati secara seksama bagaimana perilaku orang tua mereka terhadap ponsel pintar dan membentuk kebiasaan baru dengan mencoba meniru perilaku tersebut. Penggunaan teknologi digital yang berlebihan oleh orang tua dapat menyebabkan interaksi verbal dan nonverbal orang tua-anak lebih buruk dan krusial bagi perkembangan kognitif dan sosioemosional anak (Gordon-Hacker & Gueron-Sela, 2020). Terdapat istilah baru yang menggambarkan gangguan ini yaitu “Teknoferensi” yaitu gangguan sehari-hari dalam interaksi interpersonal yang diakibatkan oleh perangkat teknologi digital (Corkin et al., 2021). Teknoferensi dapat mengurangi kualitas interaksi harian antara orangtua-anak yang dapat mempengaruhi psikososial anak dan keterlibatan yang tinggi dengan layar digital. Pada dasarnya, interaksi orang tua dengan anak merupakan salah satu mekanisme sosialisasi paling utama dalam mengembangkan atensi atau perhatian anak usia dini. Hal ini terkait dengan sifat teknologi yang memberikan atensi pasif yang secara tidak langsung mematikan proses interaksi anak usia dini yang lebih membutuhkan komunikasi dua arah atau timbal balik yang dapat mendukung tumbuh kembangnya. Kemenkes juga menyebutkan bahwa penggunaan gadget pada anak dapat menyebabkan berbagai dampak negatif mulai dari gangguan kesehatan akibat kurang tidur dan masalah pada mata, peningkatan risiko obesitas karena kurang bergerak hingga paparan radiasi yang berpotensi memengaruhi perkembangan otak serta daya tahan tubuh. Selain itu, screen time yang berlebihan juga dapat menghambat kemampuan komunikasi, menurunkan prestasi belajar serta memicu masalah psikologis akibat paparan konten yang tidak sesuai usianya.
Merujuk pada kondisi tersebut, World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan rekomendasi resmi mengenai durasi penggunaan gadget bagi anak-anak usia. WHO, menekankan bahwa anak-anak dibawah usia lima tahun sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari, sementara anak-anak di bawah usia satu tahun tidak disarankan sama sekali terpapar layar digital (WHO, 2019). Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam menyikapi fenomena ini, yaitu dengan mengawasi secara ketat, mendampingi anak saat menggunakan gadget, serta membatasi baik durasi maupun jenis konten yang diakses sehingga anak dapat terlindungi dari bahaya yang ditimbulkan serta menggunakan teknologi secara lebih sehat dan bermanfaat.
Sumber Referensi:
Corkin, M. T., Henderson, A. M. E., Peterson, E. R., Kennedy- Costantini, S., Sharplin, H.S., & Morrison, S. (2021). Associations between technoference, quality of parent-infant interactions, and infants’ vocabulary development. Infant Behavior and Development, 64, Article 101611. https://doi.org/10.1016/J. INFBEH.2021.101611
Gueron-Sela, N., & Gordon-Hacker, A. (2020). Longitudinal links between media use and focused attention through toddlerhood: A cumulative risk approach. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.569222
Rahayu, N. S., Elan, Mulyadi, S. (2021). Analisis penggunaan gadget pada anak usia dini. Jurnal PAUD Agapedia, Vol.5 No. 2.
Rocha, B., & Nunes, C. (2020). Benefits and damages of the use of touchscreen devices for the development and behavior of children under 5 years old—a systematic review. Psicologia: Reflex˜ao e Crítica, 33(1).https://doi.org/10.1186/S41155-020-00163-8
Swider-Cios, E., Vermeij, A., & Sitskoorn, M. M. (2023). Young children and screen-based media: The impact on cognitive and socioemotional development and the importance of parental mediation. Cognitive Development, 66, 101319. https://doi.org/10.1016/j.cogdev.2023.101319
https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2023/11/23/dampak-gadget-terhadap-perkembangan-anakmemahami-efek-positif-dan-negatif/
https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/komitmen-pemerintah-melindungi-anak-diruang-digital
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1378/safety-anak-bahaya-gadget-pada-anak
https://www.aoa.org/news/clinical-eye-care/public-health/screen-time-for-children-under-5