Saat ini, media sosial sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan remaja. Platform seperti Instagram, TikTok, hingga Facebook bukan hanya berfungsi sebagai tempat berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengikuti tren, membentuk gaya hidup, bahkan menentukan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain. Dari sinilah muncul fenomena yang sering disebut Fear of Missing Out (FoMO). Secara sederhana, FoMO adalah rasa cemas atau takut tertinggal ketika orang lain melakukan sesuatu yang terlihat menyenangkan di media sosial (Sapriadi, 2024). Penelitian menunjukkan, sekitar 40% pengguna internet mengalami FoMO, dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan karena hampir setiap hari mereka terhubung dengan dunia digital (Kolinug &Prasetya, 2021).
Salah satu tren yang belakangan banyak bermunculan di media sosial adalah aktivitas olahraga. Namun, olahraga kini tidak lagi sekedar dilakukan untuk menjaga kesehatan, melainkan juga sebagai ajang untuk tampil di media sosial. Contohnya adalah yoga di rooftop dengan latar pemandangan estetik, lari bersama teman lalu membagikan hasilnya melalui aplikasi Strava, mendokumentasikan kegiatan pilates hingga viral di TikTok, hingga rutinitas gym dengan personal trainer yang sering muncul di halaman FYP kita. Dari tren ini terlihat jelas bahwa olahraga mengalami pergeseran makna: bukan hanya untuk kebugaran tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup, citra diri, dan pengakuan sosial.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Budaya digital membuat visual menjadi sangat penting. Unggahan yang menarik, jumlah like, komentar, hingga jumlah tayangan seolah menjadi “nilai” yang menentukan seberapa dihargainya seseorang. Akibatnya, olahraga yang awalnya bersifat pribadi kini berubah menjadi semacam pertunjukan kecil di ruang digital. Menurut Marwick dan Boyd, media sosial dapat diibaratkan sebagai panggung (Sandira et.al, 2025). Di atas panggung ini, remaja menampilkan diri sesuai tren dan algoritma yang terus berubah. Jika tidak ikut serta, sering muncul rasa takut dianggap ketinggalan.
Meski begitu, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Banyak remaja yang awalnya berolahraga hanya untuk membuat konten, lama-kelamaan terbiasa dan merasakan manfaat nyata. Tubuh menjadi lebih segar, tidur lebih berkualitas, serta rasa percaya diri meningkat. Dengan demikian, FoMO yang biasanya dipandang negatif justru dapat menjadi pemicu terbentuknya kebiasaan baik. Namun, penting bagi remaja untuk tetap bijak dalam menggunakan media sosial. Berikut beberapa
kiat yang bisa diterapkan:
Dengan adanya fenomena FoMo, media sosial memang dapat memberikan tekanan kepada kita. Akan tetapi, di sisi lain media sosial juga dapat menjadi salah satu variabel mendorong kita menumbuhkan kebiasaan sehat. Kuncinya adalah kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak, memanfaatkan tren untuk hal - hal yang bermanfaat, dan tidak membiarkan dunia digital mengendalikan diri. Dengan keseimbangan, remaja dapat tetap eksis di media sosial sekaligus menjaga kesehatan tubuh dan mental secara nyata.
Referensi:
Kolinug, C. E. S., & Prasetya, B. E. A. (2021). Hubungan Antara Harga Diri Dengan Fear Of Missing Out Pada Remaja Pengguna Media Sosial di SMA Negeri 1 Manado. Psikopedia,2 (3), Article 3.
https://doi.Org/10.53682/Pj.V2i3.3538
Sandira, N. F. A. ., Sachrir, M. I. ., Sarah, N., & Arifin Bando, U. D. M. . (2025). Sportstagram & TikTok Athletic: FOMO and Digital Lifestyle on Self-Representation Through Sports Activities on Social Media. Jurnal Online Manajemen ELPEI, 5(2), 1606–1617. https://doi.org/10.58191/jomel.v5i2.452
Sapriadi, S. (2024). Dampak Intensitas Penggunaan Media Sosial Terhadap Perilaku Fear Of Missing Out (Studi Kasus pada Siswa SMK Negeri 1 Parepare.)[Undergraduate, IainParepare].
https://repository.Iainpare.ac.id/id/eprint/7112/