Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, seringkali kita lupa memperhatikan orang-orang di sekitar, termasuk para lansia yang hidup sendirian. Bagi sebagian lansia, menjalani hari-hari tanpa keluarga atau pendamping di rumah menjadi kenyataan yang mau tidak mau harus mereka hadapi. Kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan psikologis mereka. Sebuah kasus yang diberitakan di media menunjukkan seorang lansia yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya setelah beberapa hari tidak terlihat keluar oleh warga sekitar (Tribun Lampung, 2026). Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa fenomena Lansia tinggal sebatang kara perlu menjadi perhatian masyarakat.
Di berbagai daerah, sering kita temui lansia yang hidup sendiri. Banyak faktor yang membuat para lansia harus menjalani hidupnya sendirian, mulai dari perubahan struktur keluarga misalnya kondisi saat anak-anak sudah bekerja atau membangun keluarga masing-masing sehingga tidak lagi tinggal satu rumah atau bahkan satu kota; kesibukan anggota keluarga, misalnya , hingga perpindahan tempat tinggal. Pada kondisi tersebut, interaksi sosial yang sebelumnya mungkin rutin dilakukan akan menjadi berkurang. Ketika seseorang jarang berinteraksi dengan orang lain, rasa kesepian dapat muncul dan mempengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Berdasarkan penelitian oleh Dewi et al. (2024) rendahnya interaksi sosial dapat meningkatkan rasa kesepian dan menurunkan kesejahteraan psikologis lansia. Dengan kata lain, hubungan sosial yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental di usia lanjut.
Dalam psikologi, kondisi tersebut bisa diartikan sebagai kesepian (loneliness). Kesepian merupakan perasaan tidak menyenangkan yang muncul ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan sosial yang bermakna dengan orang lain. Menurut Erfiyanti et al. (2023) lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami kesepian karena perubahan peran sosial, kehilangan pasangan hidup, serta berkurangnya interaksi dengan lingkungan sekitar. Kesepian pada lansia juga dapat dipahami melalui teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, yaitu pada tahap integrity vs despair. Individu akan merefleksikan kehidupannya secara keseluruhan. Jika seseorang merasa hidupnya bermakna dan diterima oleh lingkungan sosialnya, maka ia akan mencapai kondisi integrity (penerimaan diri). Namun, jika individu merasa hidupnya penuh penyesalan, kesepian, dan tidak memiliki hubungan sosial yang kuat, maka dapat muncul perasaan despair (keputusasaan).
Selain itu, teori dukungan sosial dalam psikologi menjelaskan bahwa hubungan dengan orang lain memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis individu. Dukungan sosial dapat berupa perhatian, bantuan, maupun interaksi sehari-hari yang membuat seseorang merasa dihargai dan diterima (Fathiyah dan Seniati, 2025). Semakin rendah dukungan sosial yang diterima, semakin besar kemungkinan lansia mengalami kesepian.
Kepedulian sosial masih merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat, seperti yang dibuktikan oleh kisah seorang lansia yang ditemukan meninggal setelah berhari-hari tidak terlihat oleh penduduk setempat. Kesejahteraan psikologis para lansia dapat sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial sederhana seperti menyapa, menanyakan kabar mereka, atau sekadar mengamati kehadiran mereka di area tersebut.
Pada akhirnya, masa tua seharusnya tidak dijalani dalam kesendirian. Dengan meningkatkan kepedulian sosial dan memperkuat hubungan antaranggota masyarakat, lansia dapat menjalani masa tuanya dengan lebih bermakna, merasa dihargai, dan tetap memiliki keterhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Melalui kegiatan BKL (Bina Keluarga Lansia) maupun Sekolah Lansia, diharapkan dapat menjangkau populasi lansia kesepian atau yang hidup sendirian agar tetap dapat berdaya dengan dukungan Penyuluh KB, Kader maupun rekan sesama Lansia lainnya.
Sumber :
Tribun Lampung. (2026, March 8). Lansia sebatang kara ditemukan tewas setelah beberapa hari tak terlihat keluar rumah. Tribunnews Lampung. https://lampung.tribunnews.com/news/1203730/lansia-sebatang-kara-ditemukan-tewas-setelah-beberapa-hari-tak-terlihat-keluar-rumah
Dewi, L. T. E., Luthfa, I., & Aspihan, M. (2024). Analisis hubungan tingkat kesepian dan interaksi sosial pada lansia di rumah pelayanan sosial lanjut usia. Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan, 10(2), 245–257. https://doi.org/10.37012/anakes.v10i2.2540
Fathiyah, A. B., & Seniati, A. N. L. (2025). Systematic literature review: Dukungan sosial sebagai pilar kesejahteraan psikologis lansia. Jurnal Psikologi Perseptual, 10(1), 54–68. https://doi.org/10.24176/perseptual.v10i1.14231
Erfiyanti, E., Cahyati, T. N., Putri, R. W., Noveli, A. T., Aldellisa, L., & Hikmah, S. (2023). Analisis loneliness pada lansia di Panti Wredha Harapan Ibu. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 25(3). https://doi.org/10.26623/jdsb.v25i3.7129