Apa itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah perilaku mencari dan membaca konten bernuansa negatif secara berulang dan kompulsif melalui media digital (Rospita et al., 2026). Perilaku ini tidak sekadar penggunaan media sosial biasa, tetapi lebih pada paparan konten negatif yang memicu emosi seperti cemas, takut, atau marah. Banyak orang awalnya hanya ingin mencari informasi terbaru, tetapi justru terjebak dalam arus berita buruk yang memicu kecemasan dan kelelahan mental.
Salah satu teori yang menjelaskan fenomena ini adalah teori regulasi emosi. Teori ini menjelaskan bagaimana individu mengelola emosi yang dirasakan, baik secara adaptif maupun maladaptif. Dalam kasus doomscrolling, banyak individu menggunakan media sosial sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari emosi negatif, seperti stres, bosan, atau cemas. Namun, strategi ini tergolong maladaptif karena justru memperparah emosi negatif tersebut. Individu justru semakin terpapar konten yang memperkuat perasaan cemas dan tertekan. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya psychological distress, terutama pada mahasiswa yang memiliki intensitas penggunaan media digital yang tinggi (Hernawati et al., 2026).
Dari perspektif behavioristik, doomscrolling dapat dijelaskan melalui teori penguatan (reinforcement). Teori ini menyatakan bahwa perilaku dapat terbentuk dan dipertahankan melalui adanya reward atau penguatan. Dalam doomscrolling, setiap kali individu menemukan informasi baru, otak memberikan respons berupa rasa puas atau penasaran yang terpenuhi, meskipun hanya sesaat. Reward kecil ini membuat individu terdorong untuk terus mengulangi perilaku scrolling. Seiring waktu, perilaku ini menjadi kebiasaan otomatis yang sulit dihentikan, bahkan ketika individu menyadari bahwa konten yang dikonsumsi berdampak negatif terhadap dirinya (Dinilhaq & Ardoni, 2025).
Teori-teori tersebut menjelaskan bagaimana konsumsi konten negatif secara terus-menerus dapat memengaruhi kesejahteraan mental (mental well-being). Paparan berita buruk, konflik, atau isu yang menimbulkan ketakutan dapat membentuk persepsi bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman. Akibatnya, individu menjadi lebih mudah cemas, pesimis, dan mengalami penurunan suasana hati. Penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan mental well-being, termasuk meningkatnya stres, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi (Ibad et al., 2025). Dampak ini semakin kuat pada remaja dan mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari (Sa’idah & Aryani, 2025).
Dampak Doomscrolling
Doomscrolling dapat memberikan berbagai dampak psikologis, antara lain:
Pada remaja dan mahasiswa, perilaku ini juga dikaitkan dengan gangguan keseimbangan kehidupan sehari-hari dan kesehatan mental (Sa’idah & Aryani, 2025).
Cara mengurangi Doomscrolling
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak dalam mengonsumsi informasi di era digital.
REFERENSI
Firmansyah, F. A., & Ardelia, V. (2026). Pengaruh Doomscrolling terhadap Kecemasan pada Emerging Adult. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 13(01), 1-11. https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n01.p1-11
Hansya, M. R. (2024). Pengaruh Doomscrolling Terhadap Mental Well-being Dimediasi Oleh Psychological Distress Pada Pengguna Media Sosial X Generasi Z (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
Hernawati, R., Manek, A. M., & Sasea, T. (2025). Peran Literasi Digital Dalam Memoderasi Pengaruh Doom Spending, Doom Scroling Dan Fear Of Missing Out Terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan Generasi Z Di Kota Kupang. Among Makarti, 18(1), 41-58. http://dx.doi.org/10.52353/ama.v18i1.827
Prayoga, A., Sagala, D. M., & Annisa, N. M. (2026). Scroll tak berujung, pikiran tak tenang: Dampak doomscrolling terhadap psychological distress pada mahasiswa di Indonesia.
Rospita, I. O., Akhrania, L. A., & Al Yusainya, C. A. (2026). Can't stop, won't stop: The doomscrolling scale Indonesia version. https://doi.org/10.1080/02673843.2026.2653837
Dinilhaq, M. I., & Ardoni, A. (2025). Motif perilaku doomscrolling di media sosial pada mahasiswa. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i2.30487