Childfree vs Family Planning: Menolak Punya Anak atau Belum Siap Berencana

...

“Aku mending childfree sih. In this economy, biaya sekolah zaman sekarang bikin dompet nangis.”
 

Komentar-komentar bernada seperti ini semakin mudah ditemui di FYP TikTok maupun linimasa X. Membicarakan pernikahan dan anak bagi sebagian dari anak mudah bukan lagi sekadar mengikuti alur hidup “habis nikah, terus punya anak, titik.” 
 

Lantas, apakah childfree merupakan satu-satunya jawaban atas kekhawatiran tersebut? Atau justru perlu memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan family planning? 
 

Childfree Bukan Sekedar Belum Punya Anak
 

Secara umum, childfree merujuk pada keputusan untuk tidak memiliki anak secara sukarela. Konsep ini berbeda dengan childless  yang merupakan kondisi tidak memiliki anak tetapi masih memiliki keinginan untuk memilikinya. Memutuskan untuk menjadi childfree juga tidak selalu muncul tanpa aba-aba, tetapi dapat berkembang melalui proses pemikiran dan pertimbangan mengenai kehidupan yang dijalani (Hintz & Tucker, 2023). 
 

Lalu mengapa seseorang memilih untuk tidak memiliki anak? 
 

Tentunya, tidak ada jawaban yang sama. Penelitian dari Blackstone & Stewart (2012) mengenai individu childfree menemukan beragam alasan, seperti 

  1. Keinginan mempertahankan kebebasan, 
  2. Mempertahankan kesempatan untuk mengembangkan diri, tujuan karir, dan gaya hidup
  3. Keengganan terhadap berubahnya kehidupan dan tanggung jawab yang harus dilakukan sebagai orang tua. 
     

Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa keputusan memiliki atau tidak memiliki anak merupakan hal yang kompleks. Karena itu, kurang tepat jika pilihan childfree langsung disederhanakan sebagai bentuk egoisme atau sekedar mengikuti tren. 
 

Kalau begitu, Apa Itu Family Planning? 
 

Di sinilah family planning atau Keluarga Berencana (KB) perlu dipahami. 
 

Materi Pelayanan Keluarga Berencana didalamnya berkaitan dengan KB sebagai upaya mengatur kehamilan dan kelahiran, termasuk menentukan jumlah anak serta jarak kelahiran. Perencamaam kehamilan juga perlu memmpertimbagkan berbagai kondisi, seperti kesehatan, kesiapan psikologis, kondisi finansial, dan dukungan dalam pengasuhan. 
 

Dengan demikian, KB bukan hanya tentang penggunaan kontrasepsi. Ada proses merencanakan kehidupan reproduksi secara sadar di dalamnya. 

Hal ini membuat childfree dan KB sebenarnya tidak tepat jika ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling berlawanan. 
 

Childfree berkaitan dengan keputusan untuk tidak memiliki anak, sedangkan KB berkaitan dengan pengaturan dan perencanaan kehamilan serta kelahiran. 
 

Lalu, Apa Hubungannya bagi Remaja?
 

Mungkin muncul pertanyaan “Kalau aku masih remaja, kenapa aku harus memikirkan ini?” 
 

Jawabannya bukan karena remaja harus segera menentukan apakah ingin punya anak atau tidak. Justru masa remaja dapat menjadi kesempatan untuk mulai mengenali diri, memahami nilai dan tujuan hidup, serta mendapatkan informasi yang tepat mengenai kehidupan berkeluarga. Didapatnya pengetahuan tersebut, ketika nantinya memasuki tahap kehidupan yang lebih serius, keputusan mengenai pernikahan dan anak tidak hanya didasarkan pada tekanan sosial atau anggapan bahwa “memang sudah waktunya”.
 

Pada akhirnya, setiap orang dapat memiliki pilihan yang berbeda mengenai kehidupan keluarganya. Yang terpenting adalah memahami pilihan tersebut, mempertimbangkan konsekuensinya, dan mengambil keputusan secara sadar. 
 

Karena pertanyaan tentang masa depan bukan hanya “Mau punya anak atau tidak?” 

Tetapi juga “Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun, dan sudahkah kita mempersiapkannya? 
 

Tidak perlu mengikuti timeline orang lain. Kenali pilihanmu dan rencanakan masa depan dengan sadar.

Putri Cahya Oktafiani / 17 Sep 2026