Apa yang sebenarnya terjadi pada remaja? Kenapa remaja, kelompok usia paling sehat secara fisik, justru menanggung beban kesehatan jiwa tertinggi?
Berdasarkan dari data Global Burden of Disease tahun 2021, masalah kesehatan jiwa pada remaja pada rentang usia 10-14 tahun dan 15-19 tahun masuk pada peringkat pertama. Jika kita bandingkan dengan data pada rentang usia lain, hanya kelompok remaja saja yang memiliki masalah kesehatan jiwa atau mental pada peringkat pertama. Sebuah temuan yang mengejutkan mengingat usia remaja yang biasa dikenal sebagai fase paling prima dalam hidup manusia. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan, “kenapa masa remaja yang “prima” ini malah menanggung beban psikologis yang lebih berat?”
Jawabannya mungkin tidak terletak pada tubuh remaja sendiri, tetapi pada relasi sosial mereka. Perlu diketahui, masa remaja merupakan waktu dimana seorang manusia sedang mengalami masa eksplorasi dan orientasi dengan perubahan di lingkungan sosialnya. Remaja, dalam menghadapi perubahan lingkungan tentu bertemu dengan banyak orang baru. Di sisi lain hubungan dengan orang tua yang berubah, banyaknya waktu yang dihabiskan dengan gadget, dan pencarian jati diri yang membuat remaja menjadi rentan merasa kesepian.
Kenapa kesepian?
Psikolog Robin Dunbar (2025) menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik manusia dalam segala usia, ternyata paling kuat melalui faktor jumlah dan kualitas relasi pertemanan dekat seseorang dengan angka 5 sebagai jumlah ideal. Temuannya menyatakan bahwa kesepian atau loneliness ini memiliki hubungan positif dengan biologis, contohnya produksi hormon endorfin yang berperan penting dalam suasana hati. Dengan kata lain, kesepian bukan sekadar "perasaan sepi" yang bisa diabaikan ia adalah kondisi dengan konsekuensi yang sepadan bobotnya dengan penyakit fisik yang selama ini lebih sering menjadi sorotan.
Ketika teman menggantikan orang tua
Perubahan yang paling dirasakan remaja ada pada aspek pertemanan. Psikolog Harry Stack Sullivan dalam Buku Life Span Development oleh Santrock (2024) menyatakan bahwa remaja memiliki kebutuhan kedekatan emosional yang makin menguat, inilah yang membuat mereka mulai mencari sahabat dekat yang lebih dari sekedar teman bermain. Jika kebutuhan ini belum bisa tercapai, maka munculah rasa kesepian dan menurunnya rasa harga diri mereka. Pada buku yang sama terdapat penelitian tentang Self Disclosure Conversation yang memperlihatkan jika remaja lebih banyak membuka diri kepada sahabatnya jika dibandingkan dengan orang tuanya. Namun, akan berbalik kembali ketika mereka menginjak usia berkuliah. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa titik ini adalah masa dimana teman menjadi sumber utama rasa didampingi, diakui dan dipahami.
Sebagaimana teman yang menjadi sumber utama, ketergantungan pada pertemanan ini justru akan timbul dan menjadi celah. Sebuah studi yang dilakukan oleh Lodder, dkk. (2015) pada remaja menjelaskan jika banyaknya teman yang dimiliki remaja tidak selalu berkaitan dengan loneliness atau kesepian, adapun yang menentukan adalah bagaimana remaja mengartikan kualitas pertemanan itu sendiri. Seorang remaja yang kesepian akan cenderung menilai negatif kualitas pertemanannya dibandingkan dengan penilaian dari temannya sendiri. Jadi, ketika kebutuhan kedekatan emosional itu tidak terpenuhi meski sebenarnya remaja memiliki banyak teman, kesepian tetap bisa muncul karena kesenjangan dari harapan dan cara pandang.
Ketika rumah tak lagi terasa aman
Sementara pertemanan makin penting, hubungan dengan orang tua juga mulai berubah. Namun, Goossens et al. (1998) menemukan bahwa remaja dengan kelekatan yang aman atau secure attachment pada orang tua cenderung mengalami loneliness yang lebih rendah, termasuk dalam hubungan pertemanan. Sebaliknya, remaja dengan kelekatan yang kurang aman lebih rentan merasa nyaman menjaga jarak dan tidak terlalu berharap pada kedekatan dengan orang lain.
Lalu, bagaimana hubungan dengan orang tua bisa berkaitan dengan loneliness? Karababa (2021) menemukan bahwa kelekatan yang baik dengan orang tua dapat meningkatkan self-esteem, yang kemudian membantu menurunkan loneliness. Jadi, rasa aman yang dibangun di rumah bisa ikut membentuk bagaimana remaja melihat dirinya dan menjalani hubungan dengan orang lain.
Gadget jadi pelarian atau sumber baru kesepian?
Hal ketiga yang terjadi pada masa remaja adalah bagaimana mereka menghabiskan waktu. Bagi generasi sekarang, sebagian besar waktu yang mereka habiskan ada di layar. Szawarnoga, dkk. (2025) menemukan bahwa pengguna yang lebih muda cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, dan semakin banyak waktu itu, semakin tinggi pula tingkat kesepian serta gejala kecemasan yang mereka alami. Sementara tingkat pendidikan yang lebih tinggi justru berkaitan dengan waktu online yang lebih sedikit dan kesadaran yang lebih baik terhadap risikonya. Penggunaan media sosial juga menurut mereka, meningkatkan rasa terisolasi penggunanya
Gambaran yang lebih spesifik pada remaja datang dari Matiz, dkk. (2024), yang meneliti siswa SMA di Italia. Mereka menemukan bahwa kesepian tidak langsung mendorong remaja terjerumus ke penggunaan internet yang berlebihan, yang terjadi lebih dulu adalah remaja yang kesepian cenderung "melarikan diri dari kenyataan" dengan membiarkan pikiran mereka melayang dan merasa terputus sejenak dari dunia sekitar, dan justru kondisi melayang inilah yang kemudian mendorong mereka larut semakin dalam di dunia maya.
Namun gambaran soal screen time dan kesepian ternyata tidak sesederhana itu. Smith, Leonis, dan Anandavalli (2021), setelah menelaah puluhan tahun riset soal media sosial dan kesepian pada remaja, menyimpulkan bahwa pertanyaan yang tepat bukan "apakah media sosial menyebabkan kesepian," melainkan dalam kondisi apa dan bagi siapa hal itu terjadi. Kepribadian, rasa percaya diri, tujuan penggunaan, dan respons sosial yang diterima ikut menentukan apakah layar menjadi perantara menuju kedekatan atau justru memperdalam rasa sendirian.
Dari ketiga hal yang telah dibahas, pertemanan, keluarga, dan penggunaan layar dapat kita ambil kesimpulan. Kesepian yang terjadi pada remaja tidak semata-mata muncul karena satu hal saja. Salah menilai diri sendiri di antara teman-teman, rasa percaya diri yang goyah di rumah, atau screen time yang awalnya untuk kabur dari sepi tapi malah memperparahnya, semua ini saling berkaitan. Dan mungkin karena saling berkaitannya inilah, di usia remaja beban kesehatan jiwa jadi setinggi yang ditunjukkan data GBD 2021.
Jadi kalau ada remaja di sekitarmu yang terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya merasa sendirian, ingatlah bahwa itu bukan tanda ada yang salah dengannya itu bagian dari fase yang memang berat. Yang mereka butuhkan seringkali sederhana: seseorang yang mau hadir dan mendengarkan, tanpa buru-buru menganggap remeh apa yang mereka rasakan.
Referensi
Dunbar, R. I. M. (2025). Why friendship and loneliness affect our health. Annals of the New York Academy of Sciences, 1545(1), 52–65. https://doi.org/10.1111/nyas.15309
Goossens, L., Marcoen, A., van Hees, S., & van de Woestijne, O. (1998). Attachment style and loneliness in adolescence. European Journal of Psychology of Education, 13(4), 529–542. https://doi.org/10.1007/BF03173103
Karababa, A. (2021). Understanding the association between parental attachment and loneliness among adolescents: The mediating role of self-esteem. Current Psychology, 41(10), 6655–6665. https://doi.org/10.1007/s12144-021-01417-z
Lodder, G. M. A., Scholte, R. H. J., Goossens, L., & Verhagen, M. (2015). Loneliness in early adolescence: Friendship quantity, friendship quality, and dyadic processes. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology. https://doi.org/10.1080/15374416.2015.1070352
Matiz, A., D'Antoni, F., Pascut, S., Ciacchini, R., Conversano, C., Gemignani, A., & Crescentini, C. (2024). Loneliness and problematic internet use in adolescents: The mediating role of dissociation. Children, 11(11), 1294. https://doi.org/10.3390/children11111294
Santrock, J. W. (2024). Life-span development (19th ed.). McGraw Hill.
Smith, D., Leonis, T., & Anandavalli, S. (2021). Belonging and loneliness in cyberspace: Impacts of social media on adolescents' well-being. Australian Journal of Psychology, 73(1), 12–23. https://doi.org/10.1080/00049530.2021.1898914
Szawarnoga, D., Stasiniewicz, A., Fojcik, J., & Krzystanek, M. (2025). Digital loneliness as a new diagnostic category in psychiatry: The impact of technology and social media use on psychological well-being. Frontiers in Psychiatry https: //doi.org/10.3389/fpsyt.2025.1630275